Raksasa media sosial Facebook tengah didera isu keamanan data. Perusahaan yang dituding mencuri datanya adalah sebuah lembaga survei sekaligus konsultan politik internasional, Cambridge Analytica.
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg akhirnya mengakui Facebook telah 'membuat kesalahan' dalam melindungi data pengguna. Dia juga mengumumkan serangkaian perubahan dalam media sosial ini akibat skandal Cambridge Analytica.
Kabarnya data tersebut dikumpulkan oleh seorang akademisi Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan melalui aplikasi survei di Facebook beberapa tahun lalu. Hasil survei kemudian diteruskan ke Cambridge Analytica, yang menggunakannya untuk menargetkan pengguna FB dengan iklan politik selama kampanye Pilpres Amerika Serikat 2016.
Donald Trump adalah klien dari Cambridge Analytica pada Pilpres AS 2016 lalu. Trump pun keluar sebagai juara dan kini menjadi Presiden AS meski menuai kontroversi selama masa kampanye.
Agaknya Zuckerberg tak ingin kecolongan lagi. Sejak munculnya tuduhan ini akhir pekan lalu, perusahaan raksasa medsos ini kehilangan lebih dari Rp 450 triliun dari nilai sahamnya.
"Kami akan belajar dari pengalaman ini untuk mengamankan platform kami lebih lanjut dan membuat komunitas kami lebih aman ke depan," ujar Zuckerberg.
0 komentar:
Posting Komentar